Kebanyakan mereka bersikap egois, selalu ingin diperhatikan dan tak tau rasanya berjuang.
Saya memang belum menjadi orang tua, namun saya sudah merasakan jadi seorang anak.
Ketika ortu marah kepada kita, sering sekali ngomel. Tau kah anda, bahwa setiap ucapannya itu yg membuat kita terus mengingatnya. Setiap perkataannya membuat kita dapat belajar arti kehidupan.
Maka bersyukurlah memiliki ortu yg suka memarahimu dengan mulutnya.
Coba kita lihat di zaman sekarang.
Menurut saya zaman sekarang banyak anak yg dididik dengan perlakuan begitu istimewa seperti seorang raja/ratu. Semua keinginan terpenuhi bagaimanapun caranya. Tanpa dididik soal kehidupan sesungguhnya, tanpa dididik soal agama.
Mereka merasa agama sudahlah paham. Padahal kapan dia belajar agama? Di sekolah? Yakin cukup?
Sedikit renungan untuk kids zaman now.
Saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang cara mendidik seorang anak karena saya blm merasakan di posisi itu. Dan rasanya tidak pantas sekali untuk menyinggung kesana.
Kids zaman now. Diperlakukan istimewa oleh orang tua memang menyenangkan, namun perlu diingatkan pada diri sendiri, bahwa kita hidup kedepannya apa terus bergantung pada orang tua?
Apa gak malu?
Pada masa pelajar memanglah kewajiban kita ya belajar, namun disampingnya itu selipkan waktu mu untuk membantu pekerjaan orang tua. Sering cerita ke ortu mungkin salah satu cara yg membuat kamu mendapatkan pelajaran hidup.
Karena hidup bukan hanya belajar disekolah saja tapi ada pelajaran di lingkungan sekitar kita yang harus kita pelajari.
Jika diri selalu merasakan kenikmatan lantas bagaimana kita belajar bersyukur?
Jika diri selalu mengandalkan orang lain, lantas bagaimana kita belajar ikhtiar?
Hidup bukanlah sebuah permainan, dimana kamu menganggap hidup ini tak berarti.
Hidup adalah pilihan, karena setiap langkahnya memiliki banyak arah. Disitulah kita belajar, gimana caranya agar kita tak salah pilih.
Mencoba untuk memahami kondisi zaman sekarang yg berkaitan dengan adab.
Bicara soal adab, miris sekali melihat orang yg kebanyakan lebih mengutamakan ilmu dibanding adab. Padahal belajar adab tak mudah. Namun banyak orang yg menyepelekannya, beranggapan bahwa jika MENURUT DIRINYA benar maka dia tak perduli dengan orang lain sekalipun orang itu lebih tua darinya.
Sekilas cerita, saya punya temen disekolah. Waktu itu sedang masuk jam KBM (kegiatan belajar mengajar). Nah yang ngajar ini gurunya sangat baik. Beliau mengajar untuk anak murid yg benar-benar mau belajar. Setiap pelajarannya pasti ada yang tertidur. Beliau tau kalau ada muridnya yang tidur. Tapi beliau gak pernah marah, karena beliau adalah sosok yang luar biasa menurut saya bahkan menurut murid lainnya pun demikian. Karena beliau setiap memulai pelajaran selalu nasehatin murid-muridnya untuk beribadah dll (hal yg baik-baik). Beliau akan sangat marah ketika pada saat tadarus ada murid yang bercanda, ngobrol dan hal diluar dari pada tadarus.
Dari sedikit cerita ini kita bisa mengambil sisi si murid ini. Perlakuan guru yang teramat baik namun di balas dengan perlakuan yang menurut saya kurang beradab. Coba saja rasakan ketika kita lagi bicara terus malah ditanggapin dengan tidur. Bagaimana perasaannya. Ditambah lagi usaha guru yg rumahnya jauh, datang ke sekolah buat mengajari kita pelajaran yg sangatlah bermanfaat, lalu apakah dengan sikap kita yg seperti itu pantas dikatakan bahwa kita murid yg menghargai guru? Pantaskah kita dibilang murid yang hormat terhadap guru?
Saya mengerti, memang kita cape, lelah dengan tugas yang kita dapatkan disekolah. Bahkan bisa sampai larut malam mengerjakannya (bagi orang yang berusaha). Tapi ingat, bukan hanya kita sendiri yang cape. Lihat lah disekeliling kalian. Merekapun merasakan hal yang sama, namun coba perhatikan ada gak yang gak pernah tidur saat jam KBM berlangsung? Jika ada, kenapa dia bisa? Pernahkah kalian bertanya hal itu padanya?
Lalu masihkah kita pantas untuk mengeluh cape, padahal diluar sana masih banyak orang yang ingin sekolah namun tak bisa karena keterbatasan biaya.
Jujur saja saya miris sekali, saya mungkin tidak di posisi guru itu. Namun saya membayangkan gimana rasanya jika saya diposisi itu.
Coba kita renungkan sejenak, guru kita sudah menikah. Beliau memiliki tanggungan, beliau memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dan terhadap murid yang diajarinya. Beliau membagi waktunya sedemikian luar biasa, pastilah mereka merasakan perasaan yg berat ketika harus mengorbankan salah satu dari kewajibannya. Terus ketika disekolah kita murid-muridnya malah gak bisa di aturlah, semaunya sendiri, bahkan tak jarang banyak siswa yang menjelek-jelekkan gurunya sendiri-_- miris banget memang.
Ini sebagai renungan buat kita termasuk saya sendiri.
Ada kisah lain, mengenai anak dan ortu.
Entah ini terjadi di sekeliling kalian atau egk. Tapi ini terjadi di daerah deket rumah saya. Dulu ada yang ngontrak di dekat rumah. Entah anak ini salah didik atau salah pergaulan ya. Cara bicara anak ini dan orang tuanya itu sama. Yah klo cara bicaranya baik sih gak masalah. Yang jadi masalah adalah bicaranya yang gak seharusnya dia ucapkan malah diucapkan. Kaya ngatain orang dengan sebutan anj**g, ba*i, bahkan lebih parah dari itu. Antara anak dan ortunya ini pas lagi berantem semua itu keluar dari mulut mereka seolah di dunia ini gak ada orang, jadi mereka seenaknya aja.
Alhamdulillah nya mereka ngontrak gak lama. Jadi rasanya enak sekali gak denger kejadian kaya gitu lagi, hehe
Sempat heran aja, ko bisa mereka mengucapkan sesuatu yang gak sepantasnya diucapkan ya?
Ini salah ortunya atau anaknya yang salah gaul? Atau dua-duanya yang salah?
Hal ini mungkin bukanlah satu/dua keluarga saja yang pernah saya temui.
Dari kisah ini saya tarik kesimpulan bahwa menjadi ortu itu tak mudah, dimana tanggungjawab yg diberikan sangatlah berat. Dan kebanyakan anak mengikuti apa yg diajarkan ortunya. Sedikit sekali seorang anak yang bisa mengerti keadaan ortu dan bisa membedakan mana yang baik dicontoh dan kurang baik dicontoh.
Karena itu kita yang masih jadi seorang anak yuk sama-sama belajar mengerti sifat, sikap ortu kita sendiri. Sehingga kita tak mudah membuat ortu kita marah-marah karena kelakuan kita. Banyak-banyak berkawan dengan orang yg senantiasa hatinya selalu mengingat Allah. Sehingga in Shaa Allah kita pun akan melakukan kebaikan yg sama. Tapi bukan berarti kita tak boleh berkawan dengan orang yg gaulz² itu. Bergaullah dengan siapa saja asal kamu bisa mewarnai mereka dengan hal² yg positif bukan malah kamu yg terwarnai dengan hal² yang negatif.
Ketika kita beradab, kita akan dihargai, di hormati. Karena kebanyakan orang menilai orang lain itu yang pertama adalah adab. Bagi saya pribadi pun, percuma kita jenius klo dalam diri kita sendiri gak tau adab. Lalu bagaimana menurut kalian?
"Orang yang tinggi adab walaupun kekurangan ilmu, lebih mulia dari orang yang banyak ilmu tapi kekurangan adab" (Habib Umar bin Hafedz)
"Hendaklah adab sopan anak-anak itu dibentuk sejak kecil karena ketika kecil mudah membentuk dan mengasuhnya. Belum dirusakkan oleh adat kebiasaan yang sukar ditinggalkan." ( Hamka )
Sungguh begitu pentingnya adab.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,
ุชุนูู
ุงูุฃุฏุจ ูุจู ุฃู ุชุชุนูู
ุงูุนูู
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,
ุจุงูุฃุฏุจ ุชููู
ุงูุนูู
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”
Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya.
Ibnul Mubarok berkata,
ุชุนูู
ูุง ุงูุฃุฏุจ ุซูุงุซูู ุนุงู
ุงً، ูุชุนูู
ูุง ุงูุนูู
ุนุดุฑูู
“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Ibnu Sirin berkata,
ูุงููุง ูุชุนูู
ูู ุงููุฏَู ูู
ุง ูุชุนูู
ูู ุงูุนูู
“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”
Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok,
ูุญู ุฅูู ูุซูุฑ ู
ู ุงูุฃุฏุจ ุฃุญูุฌ ู
ูุง ุฅูู ูุซูุฑ ู
ู ุญุฏูุซ
“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.”
Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.
Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,
ู
ุง ููููุง ู
ู ุฃุฏุจ ู
ุงูู ุฃูุซุฑ ู
ู
ุง ุชุนูู
ูุง ู
ู ุนูู
ู
“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” –
Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,
ุชุนูู
ู
ู ุฃุฏุจู ูุจู ุนูู
ู
“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”
Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini.
Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a,
ุงَُّูููู
َّ ุฅِِّูู ุฃَุนُูุฐُ ุจَِู ู
ِْู ู
َُْููุฑَุงุชِ ุงูุฃَุฎْูุงَِู َูุงูุฃَุนْู
َุงِู َูุงูุฃََْููุงุกِ
“Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ [artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar].” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)
Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya,
ุงَُّูููู
َّ ุงْูุฏِِูู ูุฃَุญْุณَِู ุงูุฃَุฎْูุงَِู ูุงَ َْููุฏِู ูุฃَุญْุณََِููุง ุฅِูุงَّ ุฃَْูุชَ َูุงุตْุฑِْู ุนَِّูู ุณَِّูุฆََูุง ูุงَ َูุตْุฑُِู ุนَِّูู ุณَِّูุฆََูุง ุฅِูุงَّ ุฃَْูุชَ
“Allahummahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdi li-ahsanihaa illa anta, washrif ‘anni sayyi-ahaa, laa yashrif ‘anni sayyi-ahaa illa anta [artinya: Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau].” (HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib)
ุฃุณุฃู ุงููู ุฃู ูุฒุฑููุง ุงูุฃุฏุจ ูุญุณู ุงูุฎูู
Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar mengaruniakan pada kami adab dan akhlak yang mulia.
_________________________________________________
Semoga sedikit kisah dan kata-kata yang saya tuliskan bermanfaat :).
Mohon maaf jika ada pendapat saya pribadi tidak sesuai.
Jika kalian punya kisah-kisah yang dapat di ambil pelajarannya, yuk sharing dengan memberi komentar di blog ini.
Terimakasih telah membaca :)
#jadikanmalamminggumubermanfaat
